Sholat Khusyuk

image

Akhir akhir ini saya khawatir, kok pas sholat tiba tiba keingetan kerjaan, rumah, hal hal remeh yang lain. Aduh hal ini tidak benar, orang yang tidak khusyuk dalam sholatnya ibarat pencuri. Saya harus tau apa itu khusyuk, sya coba baca baca buku dan ngobrol dgn istri.
Khusyuk, ruh, dan maksud shalat
Ketahuilah, bahwa Allah Ta’ala memuji orang-
orang yang khusyuk dalam shalat mereka,
ﻗَﺪْ ﺃَﻓْﻠَﺢَ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ
(1) “ Sesungguhnya beruntunglah orang-orang
yang beriman”
ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻫُﻢْ ﻓِﻲ ﺻَﻠَﺎﺗِﻬِﻢْ ﺧَﺎﺷِﻌُﻮﻥَ
(2) “ (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam
shalatnya” (Al-Mu`minuun: 1-2).
Makna Khusyuk
Makna khusyuk secara bahasa
Pakar bahasa Ibnu Faris rahimahullah
mengatakan,
ﺧﺸﻊ : ﺍﻟﺨﺎﺀ ﻭﺍﻟﺸﻴﻦ ﻭﺍﻟﻌﻴﻦ ﺃﺻﻞٌ ﻭﺍﺣﺪٌ، ﻳﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺘَّﻄﺎﻣُﻦ
“khusyuk adalah (terdiri dari tiga huruf
dasar) kha`, syin dan ‘ain adalah satu
sumber, yang menunjukkan kepada makna
tunduk/merendah)” ( http://shamela.ws/
browse.php/book-96463/page-7#page-7 ).
Makna khusyuk secara istilah
Adapun Makna khusyuk dalam penafsiran
Ahli Tafsir adalah sebagai berikut:
Al-Baghawi rahimahullah menukilkan
beberapa penafsiran ulama tentang khusyuk
dalam shalat, walaupun penafsiran tersebut
berbeda ungkapannya, namun satu sama lain
tidak saling bertentangan, bahkan saling
melengkapi, karena sebagian ahli tafsir
menjelaskan makna khusyuk dari sisi
lahiriyah dan sebagian lagimenjelaskan
makna khusyuk dari sisi batin.
Al-Baghawi rahimahullah ketika menafsirkan
ayat,
ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻫُﻢْ ﻓِﻲ ﺻَﻠَﺎﺗِﻬِﻢْ ﺧَﺎﺷِﻌُﻮﻥَ
“ (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam
shalatnya” (Al-Mu`minuun: 2)
ﺍﺧﺘﻠﻔﻮﺍ ﻓﻲ ﻣﻌﻨﻰ ﺍﻟﺨﺸﻮﻉ ، ﻓﻘﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﻣﺨﺒﺘﻮﻥ ﺃﺫﻻﺀ
ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﻭﻗﺘﺎﺩﺓ ﺧﺎﺋﻔﻮﻥ ﻭﻗﺎﻝ ﻣﻘﺎﺗﻞ ﻣﺘﻮﺍﺿﻌﻮﻥ ﻭﻗﺎﻝ
ﻣﺠﺎﻫﺪ ﻫﻮ ﻏﺾ ﺍﻟﺒﺼﺮ ﻭﺧﻔﺾ ﺍﻟﺼﻮﺕ .
“(Para Ulama) berselisih dalam menafsirkan
makna khusyuk, Ibnu ‘Abbas berkata: tenang
dan merendahkan diri, Al-Hasan (Al-Bashri)
dan Qotadah menafsirkan: (yaitu) orang-
orang yang takut, Muqotil menyatakan:
(yaitu) orang-orang yang rendah hati
(tawadhu’) dan Mujahid berkata yaitu
menundukkan pandangan dan merendahkan
suara”
Beliau juga berkata,
ﻭﻋﻦ ﻋﻠﻲ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻫﻮ ﺃﻥ ﻻ ﻳﻠﺘﻔﺖ ﻳﻤﻴﻨﺎ ﻭﻻ ﺷﻤﺎﻻ ﻭﻗﺎﻝ
ﺳﻌﻴﺪ ﺑﻦ ﺟﺒﻴﺮ ﻫﻮ ﺃﻥ ﻻ ﻳﻌﺮﻑ ﻣﻦ ﻋﻠﻰ ﻳﻤﻴﻨﻪ ﻭﻻ ﻣﻦ ﻋﻠﻰ
ﻳﺴﺎﺭﻩ ﻭﻻ ﻳﻠﺘﻔﺖ ﻣﻦ ﺍﻟﺨﺸﻮﻉ ﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ﻭﻗﺎﻝ ﻋﻤﺮﻭ ﺑﻦ ﺩﻳﻨﺎﺭ
ﻫﻮ ﺍﻟﺴﻜﻮﻥ ﻭﺣﺴﻦ ﺍﻟﻬﻴﺌﺔ ﻭﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺳﻴﺮﻳﻦ ﻭﻏﻴﺮﻩ ﻫﻮ ﺃﻥ ﻻ ﺗﺮﻓﻊ
ﺑﺼﺮﻙ ﻋﻦ ﻣﻮﺿﻊ ﺳﺠﻮﺩﻙ ﻭﻗﺎﻝ ﻋﻄﺎﺀ ﻫﻮ ﺃﻥ ﻻ ﺗﻌﺒﺚ ﺑﺸﻲﺀ ﻣﻦ
ﺟﺴﺪﻙ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻼﺓ ..… ﻭﻗﻴﻞ ﺍﻟﺨﺸﻮﻉ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻫﻮ ﺟﻤﻊ ﺍﻟﻬﻤﺔ ،
ﻭﺍﻹﻋﺮﺍﺽ ﻋﻤﺎ ﺳﻮﺍﻫﺎ ﻭﺍﻟﺘﺪﺑﺮ ﻓﻴﻤﺎ ﻳﺠﺮﻱ ﻋﻠﻰ ﻟﺴﺎﻧﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ
ﻭﺍﻟﺬﻛﺮ
“Dari Ali radhiyallahu ‘anhu , yaitu tidak
menoleh ke kanan dan tidak pula ke kiri.
Sa’id bin Jubair berkata yaitu (seseorang)
tidak mengetahui siapa orang yang di
sebelah kanan dan kirinya, ia tidak menoleh,
karena demikian khusyuknya (menghadap
kepada) Allah ‘Azza wa Jalla. ‘Amr bin Dinar
berkata, yaitu ketenangan dan keindahan
keadaan (gerakan). Adapun Ibnu Sirin dan
yang lainya menafsirkan, yaitu Anda tidak
mengangkat pandanganmu dari tempat
sujudmu. Berkata Atha`, yaitu Anda tidak
bermain-main dengan anggota tubuhmu
dalam shalat…dan adapula yang menyatakan
khusyuk dalam shalat adalah mengumpulkan
konsentrasi (memperhatikan urusan shalat)
dan berpaling dari urusan di luar shalat
sembari menghayati makna bacaan dan
dzikir yang diucapkan lisannya” (Diringkas
dari Tafsir Al-Baghawi: 3/238-239).
Kesimpulan makna khusyuk yang
menyeluruh, baik khusyuk yang lahiriyah
maupun yang batin
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menafsirkan
ayat di atas (Al-Mu`minuun: 1-2),
ﻭﺍﻟﺨﺸﻮﻉ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻼﺓ : ﻫﻮ ﺣﻀﻮﺭ ﺍﻟﻘﻠﺐ ﺑﻴﻦ ﻳﺪﻱ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ،
ﻣﺴﺘﺤﻀﺮﺍ ﻟﻘﺮﺑﻪ، ﻓﻴﺴﻜﻦ ﻟﺬﻟﻚ ﻗﻠﺒﻪ، ﻭﺗﻄﻤﺌﻦ ﻧﻔﺴﻪ، ﻭﺗﺴﻜﻦ
ﺣﺮﻛﺎﺗﻪ، ﻭﻳﻘﻞ ﺍﻟﺘﻔﺎﺗﻪ، ﻣﺘﺄﺩﺑﺎ ﺑﻴﻦ ﻳﺪﻱ ﺭﺑﻪ، ﻣﺴﺘﺤﻀﺮﺍ ﺟﻤﻴﻊ ﻣﺎ
ﻳﻘﻮﻟﻪ ﻭﻳﻔﻌﻠﻪ ﻓﻲ ﺻﻼﺗﻪ، ﻣﻦ ﺃﻭﻝ ﺻﻼﺗﻪ ﺇﻟﻰ ﺁﺧﺮﻫﺎ، ﻓﺘﻨﺘﻔﻲ
ﺑﺬﻟﻚ ﺍﻟﻮﺳﺎﻭﺱ ﻭﺍﻷﻓﻜﺎﺭ ﺍﻟﺮﺩﻳﺔ، ﻭﻫﺬﺍ ﺭﻭﺡ ﺍﻟﺼﻼﺓ، ﻭﺍﻟﻤﻘﺼﻮﺩ
ﻣﻨﻬﺎ، ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﻜﺘﺐ ﻟﻠﻌﺒﺪ، ﻓﺎﻟﺼﻼﺓ ﺍﻟﺘﻲ ﻻ ﺧﺸﻮﻉ ﻓﻴﻬﺎ ﻭﻻ
ﺣﻀﻮﺭ ﻗﻠﺐ، ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﻣﺠﺰﺋﺔ ﻣﺜﺎﺑﺎ ﻋﻠﻴﻬﺎ، ﻓﺈﻥ ﺍﻟﺜﻮﺍﺏ ﻋﻠﻰ
ﺣﺴﺐ ﻣﺎ ﻳﻌﻘﻞ ﺍﻟﻘﻠﺐ ﻣﻨﻬﺎ .
“Khusyuk dalam shalat adalah hadirnya hati
(seorang hamba) di hadapan Allah Ta’ala,
menghayati kedekatan dengan-Nya, hingga
tentram hatinya karenanya, tenang jiwa dan
gerakannya, tidak banyak mengingat sesuatu
di luar urusan shalat, beradab di hadapan
Rabb-nya, menghayati seluruh apa yang ia
ucapkan dan lakukan dalam shalatnya, dari
awal hingga selesai shalatnya, sehingga
hilang was-was (bisikan syaitan) dan
berbagai pikiran yang jelek. Inilah ruh dan
maksud shalat. Shalat yang seperti inilah
yang ditulis pahalanya bagi seorang hamba.
Jadi shalat yang tidak ada kekhusyukan dan
tidak ada pula kehadiran hati -walaupun
shalat seperti itu sah dan diberi pahala
(pelakunya)- namun sesungguhnya pahala
shalat itu sesuai dengan kehadiran hati di
dalam mengerjakannya” (Tafsir As-Sa’di, hal.
637).
Jadi, profil orang yang khusyuk dalam
shalatnya adalah:
khusyuk hatinya, yaitu kehadiran hati
seseorang yang sedang menunaikan
shalat secara totalitas menghadap
Allah Ta’ala dengan membawa cinta
kepada-Nya, mengagungkan-Nya, takut
terhadap siksa-Nya, dan mengharap
pahala dari-Nya sehingga merasakan
kedekatan dengan-Nya dan tentram
hatinya serta konsentrasi penuh
menghayati seluruh apa yang ia
ucapkan dan lakukan dalam shalatnya,
dari awal hingga selesai shalatnya.
Kekhusyukan hati inilah yang
melahirkan kekhusyukan badan, karena
ia adalah pokok kekhusyukan.
khusyuk badan, berupa ketenangan
gerakan dalam shalat, beradab dan
tidak tergesa-gesa dalam mengucapkan
dzikir dan do’a, ketundukan pandangan
ke arah tempat sujud, tidak menoleh ke
atas atau ke samping, semua anggota
tubuh sesuai posisinya masing-masing
dalam setiap gerakan shalat dengan
tepat dan tidak disibukkan dengan
gerakan yang sia-sia.
Inilah khusyuk yang merupakan ruh dan
maksud shalat. Namun, tidaklah bisa khusyuk
anggota tubuh kita kecuali jika khusyuk hati
kita, karena kekhusyukan hati adalah pokok/
dasar kekhusyukan badan. Oleh karena itu,
ketika seorang imam Tabi’in, Sa’id bin
Musayyib rahimahullah melihat ada
seseorang yang berbuat sia-sia dalam
shalatnya, beliau berkata:
ﻟﻮ ﺧﺸﻊ ﻗﻠﺐ ﻫﺬﺍ ﻟﺨﺸﻌﺖ ﺟﻮﺍﺭﺣﻪ
“Kalau seandainya hati orang ini khusyuk,
tentulah akan khusyuk anggota
tubuhnya” (Syarhus Sunnah (PDF): 3/261).
Dua induk penghalang khusyu’
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah
menjelaskan induk penyebab waswas
(lintasan batin yang mengganggu/bisikan
syetan),
( ﻓﺈﻥ ﻛﺜﺮﺓ ﺍﻟﻮﺳﻮﺍﺱ ﺑﺤﺴﺐ ﻛﺜﺮﺓ ﺍﻟﺸﺒﻬﺎﺕ ﻭ ﺍﻟﺸﻬﻮﺍﺕ ، ﻭ
ﺗﻌﻠﻴﻖ ﺍﻟﻘﻠﺐ ﺑﺎﻟﻤﺤﺒﻮﺑﺎﺕ ﺍﻟﺘﻲ ﻳﻨﺼﺮﻑ ﺍﻟﻘﻠﺐ ﺇﻟﻰ ﻃﻠﺒﻬﺎ ،
ﻭﺍﻟﻤﻜﺮﻭﻫﺎﺕ ﺍﻟﺘﻲ ﻳﻨﺼﺮﻑ ﺍﻟﻘﻠﺐ ﺇﻟﻰ ﺩﻓﻌﻬﺎ ‏) . ﻣﺠﻤﻮﻉ ﺍﻟﻔﺘﺎﻭﻯ
“Sesungguhnya banyaknya waswas sesuai
dengan banyaknya syubhat dan syahwat, dan
sesuai dengan kecondongan hati terhadap
perkara-perkara yang dicintainya, yang
membuatnya menginginkan lagi mencarinya
serta sesuai dengan perkara-perkara yang
dibenci, yang hati terdorong untuk
menolaknya” (Majmu’ul Fatawa: 22/607).
Kesimpulan
Kita sangat memerlukan kekhusyukan dalam
shalat karena ia merupakan ruh dan maksud
shalat. Nah, pertanyaannya: Sudahkah kita
meraih ruh dan maksud shalat tersebut?

Khusyuk harus kita raih, kita latih hilangkan penghalang untuk menggapai nikmatnya bersujud dan bersimpuh dihadapan Rabb semesta alam.

Ayo jgn jadi pencuri sholat.

Sumber utama 1

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s